Setelah dicecar sekitar 20 pertanyaan dari penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Al Amin Nur Nasution (anggota DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan) dan Azirwan, Sekretaris Daerah Bintan, akhirnya resmi ditahan. Amin dititipkan ke Rumah Tahanan Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta. Sedangkan Azirwan, Sekda Bintan, ditahan ke Rutan Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Kamis (10/4) dini hari, keduanya resmi ditahan karena diduga terlibat kasus dugaan suap terkait pengalihfungsian hutan lindung untuk dijadikan pusat kota Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau [baca: KPK Masih Memeriksa Al Amin Nasution].

Amin Nasution dan Azirwan ditangkap KPK di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu dini hari. Amin yang juga anggota Komisi Kehutanan DPR diduga menerima suap dari Azirwan, Sekda Bintan, untuk pengalihfungsian ribuan hektare hutan lindung buat dijadikan sebagai pusat kota Kabupaten Bintan. Namun sejauh ini Amin membantah semua tuduhan yang ditujukan pada dirinya.

Amin boleh saja membantah tudingan tersebut. Yang terang, hasil rapat terbatas Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan memutuskan pemberhentian H.M. Al Amin Nur Nasution sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Jambi menyusul penetapan yang bersangkutan sebagai tersangka oleh KPK. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PPP Irgan Chairul Mahfiz seusai memimpin rapat terbatas DPP PPP yang khusus membahas masalah tersebut.

Adapun sebelum ditahan, Amin Nasution sempat dijenguk istrinya, Kristina. Dengan pengawalan ketat, penyanyi dangdut tersebut akhirnya menjenguk sang suami di Gedung KPK, Jakarta, menjelang tengah malam. Meski dihujani puluhan pertanyaan dari wartawan, pelantun lagu Jatuh Bangun ini tidak berkomentar apa pun.

Namun, sempat terjadi saling dorong antara wartawan dan beberapa orang yang mengawal Kristina. Hujanan pertanyaan yang diajukan wartawan pun tak direspons Kristina. Ia terus masuk ke ruang tengah menuju lif ke lantai delapan, tempat suaminya yang juga anggota Fraksi PPP DPR itu diperiksa.

Selain menangkap Amin dan Azirwan, KPK sempat membekuk seorang wanita yang tengah bersama keduanya di Hotel Ritz-Carlton, Rabu dini hari. Namun wanita itu tidak ditahan KPK, melainkan hanya dimintai keterangan saja.

Amin Nasution memang membantah menerima uang suap dari Pemerintah Kabupaten Bintan. Akan tetapi, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan KPK sejak enam bulan silam, komisi ini meyakini pertemuan Amin dengan Sekda Bintan dini hari kemarin adalah untuk menerima uang suap terkait dengan pengalihan status hutan.

Diketahui pula, malam sebelum ditangkap, Amin Nasution masih terlihat rapat bersama Menteri Kehutanan M.S. Kaban dalam rapat membahas alih fungsi hutan lindung di Pulau Bintan. Sikapnya yang diam justru menyimpan banyak tanya. Keesokan hari, KPK menangkap basah Amin saat bertemu dengan Azirwan, Sekda Bintan. Dalam pertemuan tersebut juga hadir staf dan sopir Azirwan serta staf Amin Nasution. KPK menemukan uang tunai sejumlah Rp 3,9 juta di kamar dan sekitar Rp 60 juta di mobil Amin Nasution. Amin membantah uang itu sebagai suap dari pejabat Kabupaten Bintan untuk pengalihan status hutan lindung ke hutan tanaman produksi.

Inilah yang membuat miris banyak kalangan. Apa yang diputuskan di Senayan, dampaknya bisa terasa sampai ke Bintan. Lokasi ini sebenarnya adalah hutan lindung di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Telukbintan, Provinsi Kepulauan Riau. Hutan seluas 8.300 hektare ini sebagian besar pohonnya telah ditebang untuk keperluan pembangunan Kantor Pemerintahan Kabupaten Bintan dan akan dijadikan pusat kota Kabupaten Bintan.

Penangkapan atas Amin memperpanjang coreng hitam di wajah Parlemen. Kasus ini seolah membenarkan hasil penelitian Transparancy International yang mengungkapkan DPR sebagai lembaga paling korup di mata publik.

Sementara, nama Al Amin Nasution memang relatif jarang muncul di depan publik khususnya yang terkait masalah politik. Tapi nama tokoh ini cukup dikenal di kalangan dunia hiburan karena ia suami dari seorang artis dangdut yang justru lebih sering muncul di liputan berita artis ketimbang kiprahnya di Parlemen. Nama Al Amin memang tak menonjol di Senayan. Ia lahir di Jambi, 28 Maret 1972. Politisi dari PPP ini mewakili daerah pemilihan Bengkulu pada Pemilu 2004. Selain bertugas di Komisi IV DPR, Amin juga beraktivitas di dunia bisnis. Tercatat, ia pernah menjadi direktur CV Gunung Rezeki Jambi dan Komisaris PT Lima Putra Bersaudara Jambi. Source (ANS/Tim Liputan 6 SCTV)


  1. 1 Amin Nasution dan Azirwan Resmi Ditahan « Berita Seputar Indonesia

    […] lanjutkan No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error with your comment, please try again. name (required)email (will not be published) (required)url […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: